This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 21 April 2016

Peran Stakeholder Dalam Pengelolaan Pariwisata

Peran Pemerintah

Pariwisata merupakan salah satu aspek penting dalam suatu wilayah. Bila dikembangkan dengan baik maka akan menjadi suatu potensi yang dapat meningkatkan pendapatan daerah tersebut. Untuk itu perlu adanya peran dari pemerintah dalam pengembangannya. Pengembangan pariwisata harus merupakan pengembangan yang terencana secara sistematis, sehingga dapat diperoleh manfaat yang optimal bagi masyarakat, baik dari segi ekonomi, sosial, dan cultural. Perencanaan tersebut harus mengintegrasikan pengembangan pariwisata ke dalam suatu program pembangunan ekonomi, fisik, dan sosial dari suatu Negara (Selo Soemardjan, dalam Spillane, 1987).


Peran pemerintah dalam mengembangkan pariwisata secara garis besarnya adalah menyediakan infrastruktur (tidak hanya dalam bentuk fisik), memperluas berbagai bentuk fasilitas, kegiatan koordinasi antara aparatur pemerintah dengan pihak swasta, pengaturan dan promosi umum ke daerah lain maupun ke luar negeri. Pemerintah mempunyai otoritas dalam pengaturan, penyediaan, dan peruntukan berbagai infrastruktur yang terkait dengan kebutuhan pariwisata. Tidak hanya itu, pemerintah bertanggung jawab dalam menentukan arah yang dituju perjalanan pariwisata. Kebijakan makro yang ditempuh pemerintah merupakan panduan bagi stakeholder yang lain di dalam memainkan peran masing-masing.
Pengembangan daerah pariwisata secara tidak langsung akan menimbulkan perubahan-perubahan sosial di kalangan masyarakat setempat. Untuk itu perlu adanya perencanaan yang mencakup aspek sosial untuk mencegah perubahan kearah yang negatif. Dua hal yang perlu dilakukan oleh pihak pemerintah dan perencana yaitu yang pertama adalah melakukan penelitian dampak sosial yang mungkin ditimbulkan untuk merancang beberapa usaha pengembangan sehingga dampak positif bisa dimaksimalkan dan dampak negatifnya diperkecil. Yang kedua adalah sejauh mungkin mengikutsertakan masyarakat setempat dalam perencanaan dan pengembangan. Penduduk setempat harus mengetahui bahwa mereka mempunyai kepentingan terhadap keberhasilan daerah pariwisata yang bersangkutan.
Beberapa peran yang mutlak menjadi tanggung jawab pemerintah adalah sebagai berikut:
Penegasan dan konsistensi tentang tata guna lahan untuk pengembangan kawasan wisata, termasuk kepastian hak kepemilikan, sistem persewaan, dan sebagainya.

  1. Perlindungan lingkungan alam dan cagar budaya untuk mempertahankan daya tarik objek wisata, termasuk aturan pamanfaatan sumberdaya lingkungan tersebut.
  2. Penyediaan infrastruktur (jalan, pelabuhan, bandara, dan angkutan) pariwisata.
  3. Fasilitas fiskal, pajak, kredit, dan izin usaha yang tidak rumit agar masyarakat lebih terdorong untuk melakukan wisata dan usaha-usaha pariwisata semakin cepat berkembang.
  4. Keamanan dan kenyamanan berwisata melalui penugasan polisi khusus pariwisata di kawasan-kawasan wisata dan uji kelayakan fasilitas wisata (kendaraan, jembatan, dll)
  5. Jaminan kesehatan didaerah tujuan wisata melalui sertifikasi kualita lingkungan dan mutu barang yang digunakan wisatawan.
  6. Penguatan kelembagaan pariwisata dengan cara memfasilitasi dan memperluas jaringan kelompok dan organisasi kepariwisataan.
  7. Pendampingan dalam promosi wisata, yakni perluasan dan intensifikasi jejaring kegiatan promosi di dalam dan di luar negeri.
  8. Regulasi persaingan usaha yang memungkinkan kesempatan yang sama bagi semua orang untuk berusaha disektor pariwisata, melindungi UKM wisata, mencegah perang tarif, dan sebaginya.
  9. Pengembangan sumberdaya manusia dengan menerapkan sistem sertifikasi kompetensi tenaga kerja pariwisata dan akreditasi lembaga pendidikan pariwisata.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa peran pemerintah sangat penting dalam pengembangan pariwisata. Pada intinya peran pemerintah yaitu memberikan pelayanan berupa penyediaan infrastruktur maupun kenyamanan dan keamanan di tempat wisata supaya para wisatawan merasa nyaman sehingga dapat sering mengunjungi tempat wisata tersebut. Dengan banyaknya wisatawan yang datang ke tempat wisata maka akan berdampak baik pada keuangan daerah yaitu dapat menambah pendapatan bagi daerah yang bersangkutan.


Peran Masyarakat

Peran masyarakat sangat diperlukan dalam mengembangkan pariwisata di suatu daerah. Untuk menjamin pelaksanaannya diperlukan suatu wadah, lembaga atau badan hukum untuk mengelola dan memanfaatkannya sebagai suatu tourist attraction (Suwantoro, 2004: 85). Peran serta masyarakat dapat terwujud karena manfaatnya dapat dirasakan secara langsung dengan terbukanya lapangan pekerjaan dan usaha jasa wisata yang secara tidak langsung dapat meningkatkan pendapatan mereka.
Suwantoro menjelaskan peran masyarakat dapat dilakukan secara aktif dan pasif. Peran serta aktif dilaksanakan secara langsung, baik secara perseorangan maupun secara bersama-sama, yang secara sadar ikut membantu program pemerintah dengan inisiatif dan kreasi mau melibatkan diri dalam kegiatan pengusahaan pariwisata atau melalui pembinaan rasa ikut memiliki dikalangan masyarakat. Peran serta pasif adalah timbulnya kesadaran masyarakat untuk tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat mengganggu atau merusak lingkungan alam di sekitar tempat wisata. Upaya  peningkatan peran serta pasif dapat dilakukan melalui penyuluhan maupun dialog dengan aparat pemerintah,penyebaran informasi mengenai pentingnya upaya pelestarian sumber daya alam di sekitar kawasan obyek wisata yang juga berdampak positif terhadap perekonomian. Keikutsertaan masyarakat sekitar kawasan obyek wisata dapat berbentuk usaha dagang atau pelayanan jasa, baik di dalam maupun di luar kawasan obyek wisata, antara lain:
  1. Jasa penginapan atau homestay.
  2. Penyediaan/usaha warung makanan dan minuman.
  3. Penyediaan/toko souvenir/cindera mata dari daerah tersebut.
  4. Jasa pemandu/Tour guide
  5. Photography
  6. Manjadi pegawai perusahanaan/pengusahaan wisata, dan lain-lain.
 Kegiatan usaha masyarakat tersebut akan dapat menciptakan suasana rasa ikut memiliki tempat mata pencaharian yang pada akhirnya akan mendorong masyarakat untuk ikut berperan dalam menjaga kelestarian lingkungan. Sesuai dengan strategi pemerintah dalam pengembangan pariwisata  yang terkait dengan pengembangan peran serta masyarakat, pengembangan pariwisata diharapkan mampu meningkatkan kesempatan dan peluang bagi masyarakat untuk manikmati manfaatnya, sehingga perkembangan kegiatan pariwisata ikut membantu kesejahteraan masyarakat.
Jasa Photography di Pantai Parangtritis, Yogyakarta

Celebes Canyon, Barru, Sulawesi Selatan

Selasa, 19 April 2016

Liburan sambil Belajar


Saat ini, kebutuhan akan bahasa, terutama Bahasa Ingggris, memang menjadi kompetensi yang sangat dibutuhkan untuk bertahan di era teknologi ini. Memang, belajar Bahasa Inggris itu juga tidaklah mudah. Tidak sedikit orang-orang yang sudah mengikuti berbagai bimbingan belajar, namun masih merasa kesulitan. Yah, emang sulit ya belajar Bahasa Inggris!

Nah, kamu tidak perlu panik susah belajar Bahasa Inggris. Kamu bisa menghabiskan liburan di Kampung Inggris di Pare, Kediri. Liburan sambil belajar ini bisa menjadi pilihan menggiurkan.

Kami menawarkan paket liburan sambil belajar buat kalian. Untuk pendaftaran di bulan April hanya dengan Rp 2.499.000 anda sudah bisa berlibur sambil belajar di Kampung Inggris Kediri saat libur panjang tiba.

Include
-Tiket Pesawat Pulang Pergi Makassar-Surabaya
-Tiket Mobil Travel Surabaya-Kediri
-Program Kursus 1 Bulan
-Asrama 1 Bulan
-Ilmu bermanfaat

Eksclude
-Komsumsi
-Uang jajan
-Belanja

Buruan daftar segera sebelum harga naik, manfaatkan waktu libur ramadhan kamu dengan hal bermanfaat

Nb: Pembayaran dapat diangsur 3 kali dengan pembayaran pertama minimal 50% dari harga utama

Pemberangkatan tgl 5 Juni 2016.  Untuk gelombang selanjutnya boleh menyusul ataupun buat jadwal keberangkatan sesuai libur masing-masing dengan minimal 5 pack setiap rombongan. 

Senin, 18 April 2016

Jelajah Mata Air Klaten

Jelajah Mata Air Klaten hanya 99K/Pack

-Umbul Ponggok
Mata air bernuansa lautan
-Umbul Manten
Mata air bernuansa danau
-Umbul Cokro
Mata air bernuansa Waterboom

Include
-Tiket masuk wisata
-Dokumentasi foto tekhnik Dom
-Guide Kece

Exclude
-Transportasi
-Komsumsi

Untuk wisatawan yang tidak memiliki transportasi kami menyediakan jasa Rental Motor dan Rental Mobil dijemput di stasiun Solo atau berangkat dari Jogja. Minimal 6 Pack setiap pemberangkatan

Nb: disarankan menghindari hari libur/weekend untuk mengantisipasi membeludaknya pengunjung demi hasil dokumentasi yang maksimal

Contact Person
Kentaro Masao : 089666300666
Reza AB : 082332237666




Jumat, 08 April 2016

Coretan Alakadarnya

PANCA BARA

Kebahagiaan dan rasa bangga terpancar dari wajah kami, peserta DIKDASLAT (Pendidikan Dasar Latihan) Mapastiebb (Mahasiswa Pecinta Alam Stiebbank Yogyakarta), Karyono (Taban), Yoseph Dege (Bobo), Anjani (Suma), Ajeng (Sunyi) dan aku sendiri Reza dengan nama rimba Jongor. 

Kebanggaan karena berhasil menyelesaikan DIKDASLAT Mapastiebb Yogyakarta dengan segudang pengalaman baru. Tak mulus jalan yang kami lalui untuk menyelesaikan Dikdaslat Mapastiebb. Sebelum mengikuti pendidikan dasar lapangan, kami harus melalui beberapa tahapan yang penuh liku. Selain itu, kami pun harus menyiapkan mental dan fisik agar dapat mengikuti Dikdaslat lapangan dengan maksimal.

Hari Kamis 31 Maret 2016 tepat pukul 15.00, kami menerima materi ruang dari kang Bombat salah satu mantan ketua umum Mapastiebb yang syarat akan pengalaman, baik selama di Mapastiebb maupun saat beliau di Sekber PA DIY. Sebuah kebanggaan diajar oleh kang Bombat yang bukan hanya aktif dalam organisasi namun juga pintar di bidang pendidikan. Itu dibuktikan oleh beliau dengan menerima Tugas belajar dari Pemda tempatnya berdinas untuk melanjutkan S2 di Universitas Gadjah mada. Matahari sudah bersembunyi, ketika kang bombat menyelesaikan materi mengenai Sejarah Mapastiebb. Setelah itu kami pun diberi waktu jedah sebelum melanjutkan materi ruang berikutnya.

Setelah makan malam tepatnya pukul 19:00 kami diberi materi Hutan dan gunung oleh kang Supit dari Kamapala Institut Pertanian Yogyakarta. Kang Supid menjelaskan panjang lebar mengenai Hutan dan Gunung. Mulai dari Manajemen Perjalanan hinggan Ilmu Peta, Medan & Kompas atau Navigasi Darat. Beliau membagikan protactor dan peta topografi untuk praktek langsung.


Malam pun semakin larut namun saya dan keempat kawan lainnya tetap semangat. Kami pun melanjutkan briefing meskipun wajah kami terlihat kusut. Briefing ini dilakukan untuk mempermantap persiapan materi lapangan keesokannya. Itu semua dilakukan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan nantinya. Kami berlima pun dengan seksama mendengar arahan kang genter selaku ketua Mapastiebb sampai selesai. 

Keesokan harinya, kami pun berkumpul di kampus sekitar pukul 10:00 waktu Indonesia bagian stiebbank hehehe. Sembari menunggu upacara pelepasan kami pun mengecek segala kebutuhan selama di gunung nantinya. Sunyi dan Suma selaku wanita tangguh menyiapakan segala hal mengenai komsumsi, sedangkan saya dan kedua pria kece lainnya menyiapkan segala alat yang dibutuhkan selama di gunung seperti tenda dan kawan-kawannya. 

Sekitar beberapa jam berikutnya, tepatnya setelah shalat Jumat kami pun berkumpul kembali untuk mengikuti Upacara pelepasan. Meskipun sederhana kami pun dengan serius mengikuti upacara pelepasan. Mendengar dengan seksama arahan kang genter, kang pulut dan pak Tito selaku Wakil Ketua III bidang Kemahasiswaan Stiebbank Yogyakarta secara bergantian. Begitu banyak pernyataan yang terlontar dari mereka. Support dan dukungan mereka menjadi sebuah motivasi tersendiri untuk lebih berkembang. Saking semangat membuat saya tak sadar kalau upacara sudah hampir usai.

Upacara pelepasan pun telah usai, ditandai dengan penerimaan bendera Mapastiebb dari wakil ketua III bidang Kemahasiswaan Stiebbank Yogyakarta kepada Ketua Mapastiebb Kang Genter (ditra Yaumilfath). Kami pun bergegas menunggu bis di pinggir jalan Magelang. Matahari sedang terik-teriknya, ketika bis yang entah apa namanya membawa rombongan kami tiba di Blabak, Kab.Magelang, Jawa Tengah. Disitu kami menunggu mobil pete-pete (angkot). Setelah beberapa menit kami pun diangkut mobil pete-pete berwarna kuning ke tujuan kami selanjutnya. Sesampainya di perempatan menuju ke selo kami pun diturunkan disitu. Kami pun harus menunggu lama mobil pick up untuk mengantar kami ke pasar Selo yang dimana merupakan lokasi start long march.

Tepat pukul 16 lewat sekian, kami pun melanjutkan perjalanan menuju pasar selo menggunakan mobil pick up sayur. Sesampainya di pasar selo kami pun mulai long march. Ditengah perjalanan kami tak lupa menjalankan kewajiban selaku umat muslim yakni shalat Maghrib. Setelah menjalankan shalat maghrib kami pun melanjutkan perjalanan ke base camp yang ditempuh sekitar 45 menit. Disana kami beristirahat sejenak sambil menunggu kang Genter dan kawan-kawan dari KAMAPALA Institut Pertanian Yogyakarta yang lagi mengurus perizinan di Pengurus Taman Nasional Gunung Merbabu. Sembari menunggu kang Genter kami pun selaku peserta mengecek persiapan lagi. Saya melengkapi sebagian perlengkapan pribadi dan yang lainnya menambah persediaan stok air untuk digunakan di gunung.

Setelah sepersekian menit kang Genter pun telah menyelesaikan semua urusan administrasi. Kami pun bergegas mengangkat carrier masing-masing. Untuk tiba di lokasi kami pun berjalan hanya beberapa menit. Ya, memang hanya sebentar karena ini bukan acara camping ceria sebagaimana kalau naik gunung. Ini merupakan Dikdaslat yang dilakukan hanya di sekitar hutan anak kaki gunung Merbabu.

Sesampainya disana kami pun berbagi tugas. Laki-laki memasang tenda dan perempuan mengurus urusan komsumsi. Kang Pelor selaku Dansis pada kegiatan ini hanya memberikan waktu selama 15 menit untuk memasang tenda serta memasak dan 15 menit untuk makan. Itu semua dilakukan agar kita selaku mahasiswa harus cepat dan tanggap menghadapi segala kemungkinan yang terjadi ketika berada di alam maupun di dunia persaingan globalisasi saat ini.

Tenda telah berdiri dan acara makan-makan pun telah usai, meskipun sebenarnya perut buntal ini masih merontah meminta hak Nya hehehehe. Selanjutnya kami pun mengikuti Binjas (Bimbingan Jasmani) yang dipimpin langsung oleh kang Pelor. Berbagai gerakan pun kami lakukan hingga tak sadar keringat pun bercucuran dibalik kabut yang kian beringas. 
  

Selasa, 05 April 2016

Coretan Seorang Tukang Jalan

PANCA BARA

Masih terasa hingga sekarang, Suasana Dikdaslat Mapastiebb. Pas sekali dengan suasana alam yang dimana kala itu sangat bersahabat. Nuansa alam yang seakan merestui perjalanan ku. 
Saat-saat itu sangat bersejarah, benar-benar sangat bermanfaat bagi orang sepertiku yang selalu haus akan hal baru. Bukan hanya sekedar pengalaman yang kutemui kala itu namun juga keluarga baru dan ilmu baru. Bagiku mungkin Dikdaslat ini baru 1 jawaban dari mengapa saya harus tetap bertahan di kota ini, pada dasarnya Dikdaslat ini akan jadi salah satu sejarah dalam hidup aku. 
Saat Dikdas, mental kami benar-benar diuji, bukan dengan perpeloncohan yang umumnya diterima mahasiswa baru oleh para seniornya dalam kegiatan sejenis. Tapi mental yang diuji adalah tentang apakah kami mampu ‘memikul’ beban terberat dalam kehidupan sehari-hari. Haus dan lapar pun tak terasa saking menariknya kegiatan ini.
Sebagai seorang pecinta alam, tentu kami dilatih untuk bekerjasama, saling menyokong, serentak memberi semangat, namun dalam kesibukan penuh keringat itu, kami diajarkan untuk tidak lupa untuk tetap berprestasi di bidang akademik. Tidak terbersit sedikit pun dalam pikiran memamerkan status sebagai pecinta alam ini hanya untuk menggaet hati wanita. 
Tidur di tengah hutan,  melihat indahnya langit malam yang berbintang di balik kabut malam, melaksanakan simulasi bertahan hidup, ketiduran di tengah materi, berjalan memikul carrier yang berat, berjalan berkilo kilometer, semuanya berat, tapi karena sejak awal kami sudah memilih jalan sebagai pecinta alam, semua itu kami hadapi. Ikhlas sudah pasti, padahal makan tidak sempurna seperti saat di rumah, tapi entah datang darimana energi kami sehingga berhasil melalui itu semua.
Tidak ada hujan turun padahal beberapa hari sebelum berangkat Jogja tak hentinya dilanda hujan deras. Menurutku itulah bukti bahwa Tuhan merestui jalan yang aku pilih. Sempat terbisik kalimat untuk berhenti, tapi alhamdulillah aku memenangkan jalan yang aku pilih dengan kalimat "Insya Allah, ini untuk kemajuan almamater dan juga pastinya sebagai pengalaman buat diriku pribadi". Semoga nantinya berakhir manis bukan hanya saat awal mengikuti pelatihan ini, amiin. 

Base Camp Merbabu Via Selo

Suatu negara takkan kehabisan pemimpin jika pemuda Nya masih bermain di hutan, gunung & lautan
Sir Henry Dunant




Rabu, 30 Maret 2016

Tidak mengenal Kata Menyarah

Coretan Pemuda Insom (2)

Tidak Mengenal Kata Menyerah.

Kota tempat ku bermukim dilanda hujan deras hari ini. Sekitar 2 jam aku berteduh di salah satu jalan protokol di kota yang terkenal akan gudegnya. Kebanyakan dari masyarakat aku perhatikan tetap beraktifitas. Diantara mereka bahkan tak memakai mantel sebagai alat untuk terhindar dari air yang semakin derasnya turun dari langit. Hujan pun tak menjadi alasan untuk bermalas-malasan.

Aku yang hanya terdiam memperhatikan aktifitas mereka pun terkesima melihat semua yang terjadi. Dengan sesaat aku pun bergegas meninggalkan tempat ku berteduh untuk melanjutkan aktifitasku hari ini. Rintik hujan yang masih mengguyur kota ini membuat pakaian yang kukenakan agak basah. Namun itu tak membuat ku untuk kembali berteduh.

Sesampainya ditujuan ku hari ini akupun bergegas membuka jaket yang melekat ditubuhku. Ya, tujuan hari ini yakni ke kampus tempatku menempuh bangku perkuliahan. Meskipun tak ada kelas tapi setidaknya aku bisa mengisi waktu sekaligus mencari informasi tentang UKM yang lagi dirintis. Belum juga kugantung dengan baik jaket yang kukenakan, tiba-tiba aku dikagetkan oleh salah satu pimpinan UKM yang lagi kami rintis bersama di kampus tempat ku menempuh pendidikan. "Za, untung juga kamu datang, ayo temenin aku ke kampus xxxx untuk sharing tentang UKM kita kedepannya". Begitulah penyampaian beliau kepadaku yang sudah aku anggap abang di kampus tempatku kuliah.

Sebagai orang yang cinta akan almamater pun merasa senang dan begitu antusias ketika diajak sharing seperti ini. Sejenak aku pun menyiapkan senjata ampuhku, yakni beberapa lembar kertas. Setelah hujan agak redah kami pun bergegas menyusuri jalan beraspal kota harapan bagi kebanyakan mahasiswa rantau. Tak ada lagi bau aspal yang hilang disiram derasnya hujan dikala siang.

Setelah beberapa menit, kami pun sampai disalah satu kampus di kota ini. Disambut hangat oleh beberapa anggota organisasi kampus tersebut. Hitungan beberapa menit kami pun berjumpa dengan mas Kuntil salah satu orang yang berjasa merintis kembali UKM PA yang sempat vakum beberapa tahun. Beberapa wejangan pun kami dapatkan. Aku pun terkesima melihat perjuangan dan kepemimpinan beliau. Membangun mulai dari nol hingga memiliki kader militan yang tak sempat kuhitung jumlahnya.

Aku yang ikut saat sharing ini pun respect dengan perjuangan Ketua UKM PA kampus tempat ku kuliah. Dengan begitu gigihnya tetap ingin melakukan regenerasi demi kemajuan almamater. Mereka berdua tak hanya sekedar menjadi perintis maupun pemimpin namun kedua orang hebat itu telah berhasil memberikan pelajaran kepada orang di sekitarnya termasuk aku untuk tak pernah berhenti berjuang selama itu merupakan hal yang benar. 

Kepada Ketua Mapala Stiebbank Yogyakarta dan Kamapala Institut Pertanian Yogyakarta , tetaplah menginspirasi dan salam lestari. 


Senin, 28 Maret 2016

Realitas Pemuda Kekinian

Coretan Penikmat Senja

Rintik hujan dengan derasnya membasahi kota harapan ini. Bau aspal perlahan menghilang seperti sunset yang malu untuk berjumpa senja. Suasana ini seakan mengerti dengan perasaan ku yang sedang gundahnya. Ya, biasa siklus sekali sebulan ala mahasiswa yang dimana kantong mulai menipis hehehe.


Siklus itu sudah terbiasa kulalui setiap bulannya. Namun ada hal lain yang seakan membuat ku menjadi tak lebih kuat tuk melewati siklus bulanan ala mahasiswa itu. Guyonan teman-teman mengenai mengenai status ku yang masih men jomblo. Itulah sebebarnya yang membuat ku menjadi gundah. Mungkinkah, pemuda kini dinilai hanya karena atas dasar status semata ataukah mungkin seseorang kini hanya dinilai dari pakaian semata atau semuanya dinilai berdasarkan dunia semata.

Beberapa hari belakangan akal ku pun berpikir jauh ke dimensi lain. Tampaknya, urusan duniawi seperti tampangisme atau wajah kini mulai menjadi persoalan serius dalam perburuan kecantikan dan untuk selalu tampil yang tercantik/tertampan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang tidak mampu melekatkan pakaian bermerek (distro), memiliki gadget berbasis Android atau iPhone, tidak mampu mencicipi makanan di taman-taman kapitalis (restaurantmall, dan sebagainya), atau tidak menggunakan mobil pribadi dalam mobilitasnya, bersiap-siaplah untuk keluar dari kelompok strata yang telah dikonstruksi dengan sistematisnya.


Lalu, apa yang bisa diharapkan bangsa ini kepada pemuda-pemuda yang notabene adalah bakal calon penerus koruptor bangsa (minimal korupsi waktu) maupun penerus-penerus politisi instan? Alih-alih prihatin dengan kondisi negara ini yang sedang dilanda sakit berkepanjangan, justru fokus dan perhatian utama terkuras pada kondisi percintaan mereka (terutama bagi pemuda jomblo seperti aku) yang selalu menjadi guyonan dan memenuhi recent updates media sosial pemuda kini. Alih-alih membaca buku yang telah usang di lemari (kalaupun memiliki buku), justru waktu terbuang sia-sia hanya untuk scroll down status orang lain di media sosial. Hal ini hampir terjadi pada semua golongan pemuda, baik yang menyandang status pelajar, mahasiswa maupun yang seolah-olah mahasiswa.

Sebelum terlalu jauh terbawa arus marilah kembali ke jalur yang seharusnya. Kalau bukan sekarang, kapan lagi. Kita sebagai generasi muda harus menjadi agent sosial of change sebagaimana mestinya mulai dari sekarang karena kalau bukan kita, siapa lagi. Pemerintah juga harus turut andil dengan mencanangkan sebuah gerakan, entah itu gerakan penguatan budaya literalisasi atau apapun itu. Tanpa support dari Pemerintah tidak menutup kemungkinan negara ini bakal menjadi lebih hancur karena tidak terjadinya regenerasi yang baik.